Sinopsis :
Diangkat dari sebuah novel laris karya Dermawan Wibisono, film ini bercerita tentang perjalanan kisah 6 mahasiswa ITB diera tahun 80-an. mengisahkan tentang persahabatan 6 mahasiswa yang berbeda latar belakang ekonomi dan keluarga yang berbeda :Slamet, Fuad, Gungun, Poltak, Benny, dan Ria. Mereka adalah para mahasiswa sebuah kampus di Bandung. Ria, mahasiswi cantik dan pintar asal Padang adalah bintang kampus yang menjadi pujaan para mahasiswa.
Slamet, mahasiswa pintar dan pendiam yang berasal dari Trenggalek, sudah lama memendam cintanya kepada Ria. Benny, anak Jakarta, muncul dengan rasa ‘pede’nya yang tinggi. Gungun, asli Sunda, adalah karakter kocak yang menyegarkan suasana. Fuad, anak Madura selalu tampil menggebu-gebu, namun sebaliknya, Poltak dari Pematang Siantar adalah karakter yang santai.
Berbagai suka dan duka yang mereka alami mewarnai hidup mereka.
Dinamika hidup perkuliahan, pertemanan, percintaan, dan perjuangan, menjadi fokus cerita dalam film ini. Ada keunikan kisah cinta yang tak biasa yang hendak disajikan oleh sang sutradara, Sujiwo Tejo. Dengan gaya khasnya yang eksentrik dan sangat filosofis, Sujiwo Tejo berhasil menyampaikan pesan visual bahwa cinta kadang tak bisa dipahami oleh logika semata.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka ketika mereka bertemu lagi 20 tahun kemudian? Seperti apa akhir kisah cinta mereka?
Apakah mereka akan menunjukkan BAHWA CINTA ITU ADA?
Sarat dengan budaya dan dalang, dilengkapi dengan keunikan setting suasana tahun 80-an dan masa sekarang menjadi kekuatan visual di film ini. Suasana khas Bandung, dan Sawahlunto ditangkap dengan apik oleh penata kamera Monodzky. Sedangkan kekuatan akting para bintang diarahkan dengan baik oleh Sujiwo Tejo, seorang dalang kawakan yang menjadikan film ini debut sebagai sutradara. Didukung juga oleh paduan konsep musik modern dan tradisional oleh penata musik handal, Viky Sianipar, secara keseluruhan penonton akan hanyut untuk menangis dan tertawa hingga akhir cerita.